easter-japanese

Pada suatu ketika Yang Mulia Mahācunda sedang menetap di antara penduduk Ceti di Sahajāti. Di sana Yang Mulia Mahācunda berkata kepada para bhikkhu: “Teman-teman, para bhikkhu!”

“Teman!” para bhikkhu [42] itu menjawab. Yang Mulia Mahācunda berkata sebagai berikut:

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini.’1 Akan tetapi, jika keserakahan menguasai bhikkhu itu dan bertahan;2 jika kebencian … delusi … kemarahan … permusuhan … sikap merendahkan … sikap kurang-ajar … kekikiran … sikap iri yang jahat … keinginan jahat menguasai bhikkhu itu dan bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan menguasainya dan bertahan. Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat menguasainya dan bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Akan tetapi, jika keserakahan menguasai bhikkhu itu dan bertahan; jika kebencian … keinginan jahat menguasai bhikkhu itu dan bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan menguasainya dan bertahan. Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat menguasainya dan bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan dan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini. Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Akan tetapi, jika keserakahan menguasai bhikkhu itu dan bertahan; jika kebencian … keinginan jahat [43] menguasai bhikkhu itu dan bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan menguasainya dan bertahan. Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat menguasainya dan bertahan.’

“Misalkan, seorang yang miskin, papa, dan kekurangan mengaku sebagai seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta. Jika, ketika ia ingin membeli sesuatu, ia tidak mampu membayar dengan uang, beras, perak, atau emas, maka mereka akan mengenalnya sebagai seorang yang miskin, papa, dan kekurangan yang mengaku sebagai seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta. Karena alasan apakah? Karena ketika ia ingin membeli sesuatu, ia tidak mampu membayar dengan uang, beras, perak, atau emas.

“Demikian pula, teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan dan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini. Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Akan tetapi, jika keserakahan menguasai bhikkhu itu dan bertahan … keinginan jahat menguasai bhikkhu itu dan bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan menguasainya dan bertahan. Yang mulia ini tidak memahami dalam suatu cara bahwa ia seharusnya tidak memiliki kebencian … [44] … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat menguasainya dan bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini.’ Jika keserakahan tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan; jika kebencian … delusi … kemarahan … permusuhan … sikap merendahkan … sikap kurang-ajar … kekikiran … sikap iri yang jahat … keinginan jahat tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan tidak menguasainya dan tidak bertahan. Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki kebencian … tidak memiliki delusi … tidak memiliki kemarahan … tidak memiliki permusuhan … tidak memiliki sikap merendahkan … tidak memiliki sikap kurang-ajar … tidak memiliki kekikiran … tidak memiliki sikap iri yang jahat … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat tidak menguasainya dan tidak bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Jika keserakahan tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan; jika kebencian … keinginan jahat tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan tidak menguasainya dan tidak bertahan. Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat tidak menguasainya dan tidak bertahan.’

“Teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan dan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini. Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Jika keserakahan tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan; jika kebencian … keinginan jahat tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki keserakahan; [45] karena itu keserakahan tidak menguasainya dan tidak bertahan. Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat tidak menguasainya dan tidak bertahan.’

“Misalkan, seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta mengaku sebagai seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta. Jika, ketika ia ingin membeli sesuatu, ia mampu membayar dengan uang, beras, perak, atau emas, maka mereka akan mengenalnya sebagai seorang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta yang mengaku sebagai seorang yang kaya, makmur, dan memiliki banyak harta. Karena alasan apakah? Karena ketika ia ingin membeli sesuatu, ia mampu membayar dengan uang, beras, perak, atau emas.

“Demikian pula, teman-teman, dalam membuat pernyataan pengetahuan dan pengembangan, seorang bhikkhu mengatakan: ‘Aku mengetahui Dhamma ini, aku melihat Dhamma ini. Aku terkembang dalam jasmani, perilaku bermoral, pikiran, dan kebijaksanaan.’ Jika keserakahan tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan; jika kebencian … delusi … kemarahan … permusuhan … sikap merendahkan … sikap kurang-ajar … kekikiran … sikap iri yang jahat … keinginan jahat tidak menguasai bhikkhu itu dan tidak bertahan, maka ia harus dipahami sebagai berikut: ‘Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki keserakahan; karena itu keserakahan tidak menguasainya dan tidak bertahan. Yang mulia ini memahami dalam suatu cara bahwa ia tidak memiliki kebencian … tidak memiliki keinginan jahat; karena itu keinginan jahat tidak menguasainya dan tidak bertahan.’” [46]


Catatan Kaki
  1. Mp mengatakan bahwa klaim atas pengetahuan, pengembangan, dan atas pengetahuan dan pengembangan, dalam ketiga bagian, semuanya adalah klaim Kearahattaan. ↩︎

  2. Abhibhuyya tiṭṭhati. Ini tampaknya tidak berbeda dalam makna dengan abhibhuyya iriyati yang digunakan dalam sutta sebelumnya. ↩︎